Menulis Sebagai Pilihan Berkreatifitas

Drs. HM. Muhsin Ks., M.Ag.

Oleh:

Drs. H. M. Muhsin Ks., M.Ag.

(Dosen Ma’had ‘Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng)


1. Karya Tulis Pada  Awal Islam.

Sejak awal kebangkitan Islam, sesungguhnya jurnalistik telah dimulai dan dikembangkan oleh Nabi Muhammad SAW, dalam bentuk mengirimkan surat-surat da’wah kepada para kaisar, raja dan pemuka masyarakat. Pada tahun ke -6 Hijrah terjadi perjanjian  Shulhul Hudaibiyah, yaitu perjanjian damai antara kaum Muslimin dengan orang-orang Quraisy. Setelah perjanjian terwujud, untuk lebih meluaskan ajaran Islam, Rasulullah banyak menempuh langkah da’wah yang baru, yaitu  berda’wah dengan melalui tulisan atau surat (Ahmad Syalabi, 1991:27).

Surat-surat da’wah yang disusun dalam rangkain   tata bahasa yang indah, dengan ajakan memeluk agama tauhid, mengerjakan kebaikan dan meninggalkan kenistaan itu,  dikirimkan melalui jasa para sahabat yang terpercaya kepada sejumlah kaisar dan raja (Hernowo,2001:72), seperti : Hiraqlus (Romawi), Kisra Abrawais (Persi), Raja Habsyi an-Najasyi, Muqauqis, Al-mundir Bin Sawa (Bahrain) dan sebagainya. Surat-surat tersebut berperan sebagai kegiatan menyampaikan pesan kepada khalayak ramai melalui karya tulisan.

2. Kampus dan Tradisi Menulis.

Mencermati kasus diatas, bisa difahami bahwa aktivitas menulis mempunyai dampak yang amat besar dan menjadi pilihan berkeativitas yang cukup menantang sehingga menjadi sarana aktualisasi diri para mahsiswa (Ahmadun Yosi, 1994,11),  hal tersebut cukup beralasan karena :

  • Realitas menunjukkan bahwa tradisi lisan masih dominant, terutma terjadi pada masyarakat kampus. Masih kuatnya tradisi lisan dari pada tradisi tulis ini menjadikan kampus terasa miskin dengan karya/publikasi ilmiah. Meskipun, tentu saja, tidak bisa dinafikan bahwa masih ada warga kampus, baik dosen maupun mahasiswa yang tetap mempunyai perhatian besar terhadap hal ini. Namun jika dicermati secara sungguh-sungguh, tampak sekali bahwa warga kampus yang memiliki perhatian terhadap dunia tulis menulis masih kurang memadai. Dalam artian, jumlah mereka yang begitu banyak jauh tidak berimbang dibandingkan dengan karya-karya tulis yang dihasilkan. Untuk menuju arah itu, kegiatan yang paling relevan dilakukan adalah dengan membudayakan tradisi menulis di kalangan warga kampus. Akan lain suasananya bila iklim ini bisa diwujudkan. Dengan itu, akan menjadi pemandangan yang biasa jika didapatkan, misalnya, jika mahasiswa berpolemik dengan kawan sekampusnya atau pihak lain.Yang demikian itu jelas akan memperkaya khazanah dan kedewasaan intelektual warga kampus.
  • Iklim kampus sekarang ini kadang terasa kurang mendukung kelancaran mahasiswa untuk berkreativitas maksimal, khususnya lagi dalam aktivitas mengasah kepekaan dan kepedulian social politik mereka. Kendala ini memang structural sifatnya, karena kemampuan pihak pengelola manajemen kampus masih sangat terbatas untuk melengkapi sarana yang diperlukan mahasiswa. Maka dihimbau, agar mahasiswa bisa belajar secara otodidak, untuk mampu berfikir kritis-nalitis demi terwujudnya pribadi-pribadi yang merdeka, yakni yang terus menerus mau bergulat untuk menemukan jatidirinya. Menulis pada saat masih menjadi mahasiswa akan meninggalkan kesan tersendiri yang sulit dijabarkan. Memilih aktivitas menulis sesungguhnya memasuki sebuah dunia tersendiri, yang unik dan juga indah (Sutrisman, 1995:33). Mereka yang cukup lama menggeluti dunia kepenulisan pada saat-saat tertentu biasanya akan menikmati kebahagiaan, kepuasan. Ketika bisa menyelesaikan tulisan berupa paper, makalah untuk seminar atau tulisan bisa dimuat di majalah, akan terasa ada kepuasan tersendiri. Setidaknya ada kepuasan bahwa buah pikiran penulis dihargai. Belum lagi bila penulis sempat berkenalan dengan para pembaca atau sesama penulis. Meskipun antar penulis saling berjauhan namun sesungguhnya bisa saling menayapa dengan para pembaca/penulis yang lain. Tatkala penulis bisa bertukar pikiran dengan para pembaca/penulis lain, maka akan mendapatkan tambahan pengetahuan dan pengalaman. Penulis bisa bertukar pikiran tentang liku-liku dunia kepenulisan, mengenai pengalaman sebagai penulis, strategi untuk mengungkap fenomena/ problematika yang dihadapi secara ilmiah (Hartono, 2009:6).

Secara singkat dapat dikatakan bahwa aktivitas menulis memiliki dua manfaat (Luthfi Yazid, 1995 :59).

  1. Menjadi sarana untuk latihan intelektual (intellectual exercise) yang murah. Bagi mahasiswa sarana yang dibutuhkan untuk menulis tidaklah sulit. Perpustakaan dan buku-bukunya, majalah, journal, surat kabar, dan sejenisnya  adalah di antara sarana itu yang mudah diperoleh (sekitar Tebuireng saja mempunyai lebih dari 7 perpustakaan pondok/madrasah). Diskusi-diskusi merupakan bentuk lain yang mudah juga dilakukan, apa lagi di kampus.  Hal-hal semacam itu menjadi sarana yang dapat membantu mahasiswa untuk melatih diri bisa dan biasa menulis. Mahasiswa bisa diskusi berbagai hal dari bacaan-bacaan yang dibaca. Hasil dari bacaan itu kemudian direnungkan dan akhirnya ditulliskan ke dalam sebentuk karya tulis. Kemampuan meng organisasikan ide ke dalam bentuk tulisan ini memang tidak mudah, sekalipun sebenarnya juga tidak sulit. Dengan kebiasaan yang terus menerus dipupuk, upaya kearah itu pasti bisa berhasil. Perlu diketahui, bahwa sebagaian besar penulis yang ada sekarang ini tidak mendapatkan ilmu cara-cara menulis di bangku pendidikan formal, tetapi kebanyakan mereka mencari sendiri, belajar secara otodidak.
  2. Kemampuan menulis yang baik memerlukan dua persyaratan (Heri Suwignyo, 2008,66-70), berupa :
  • Persyaratan tehnis, yaitu tentang cara-cara menulis atau bentuknya harus dikenali terlebih dahulu. Juga masalah thema atau topic yang akan digeluti. Soal aktulaitas tulisan yang akan kita buat, format yang paling cocok juga merupakan masalah teknis. Soal aktualitas ini sangat penting, setiap orang ingin mengetahui informasi ilmiah terbaru.
  • Persyaratan non tehnis, yaitu soal tekat atau semangat untuk mengetahui dunia tulis menulis. Modal ini sangat penting karena ia merupakan modal dasar yang tumbuh dari dalam. Menjadi seorang penulis sebenarnya memerlukan suatu komitmen, dalam arti kata menjadikan menulis sebagai pilihan untuk mengaktualisasikan diri.

Di saat ruang-ruang kreativitas ditutup dan dibatasi mungkin dunia tulis menulis dapat dimasuki, dijadikan sebagai alternatif (Redi Panuju, 1999:87). Tentu saja dalam realitas seperti sekarang ini penulis harus melakukan self-concorship, baik karena alasan internal isi dan metodologi maupun alasan ekternal.

Dengan menulis seorang dapat melampiaskan segala angan-angan dalam hatinya. Pembebasan semacam itu akan menimbulkan kepuasan dalam dirinya. Dan kepuasan inilah yang merupakan sesuatu yang tidak dapat ditukar dengan nilai nominal apapun. Apa lagi dalam hal menulis, kepuasan itu merupakan hal yang amat mengesankan di hati.

3. Mahasiswa Kreatif.

Dewasa ini ada kecenderungan bahwa membaca-menulis adalah laku budaya suatu perbuatan pada zamannya. Perbuatan itu bersumber dari pikiran manusia secara alamiah, berinisiatif dan berkebebasan (Nazir Karim, 2008:3l). Dua pengertian diatas sedikit banyak saling berkaitan. Karena itu  orang lalu berkata, “mana mungkin ada manusia yang berfikir kalau dia sendiri tidak berikhtiyar untuk itu”?. Tetapi juga manusia hanya berikhtiyar, untuk itu bila sikon dan system nilai memberi peluang untuknya.

Akhirnya muncul pertanyaan“ apa yang disebut mahasiswa kreatif itu”? (Djoko Damono, 1991) mencoba memberi jawaban, dengan “seorang mahasiswa harus mampu berfikir dan menulis secara jelas dan tepat guna”. Ini berarti ia dituntut untuk bisa menyampaikan pendapat dan pandangannya. Tentu saja yang kritis secara tertulis dengan jelas dan lancar.

Karena kemampuan berfikir, membaca, menulis dan berbicara mempunyai kadar intelektualitas tertentu. Potensi demikian, memungkinkan mahasiswa menjadi jernih berfikir, sigap dan berpandangan luas, sehinga tidak menjadi semacam “pribadi yang kalah bersaing”. Ia menjadi kritis tetapi juga tidak menjadi krisis moral. Sehingga tampak konsekuen dalam setiap keputusannya (Qodri Azizi, 2003:4).

Apa bila kita menyimak pendapat Djoko Damono diatas, maka syarat-syarat mahasiswa ideal yang ditawarkan itu, tak lain adalah mahasiswa harus aktif membaca-menulis, agar ia mempu memadukan pengetahuan yang dimiliki, hal ini didukung dengan pendapat  Prof.Dr.Winarno Surakhmat “bahwa pendidikan nasional harus melahirkan kehidupan yang tumbuh dari dalam, sehingga pendidikan berarti mendidik diri sendiri, memerintah berarti memerintah diri sendiri”. Selanjutnya Amentembun NA, menambhkan, “apa bila sifat-sifat tersebut bisa dimiliki dan diresapi oleh seorang  mahasiswa ia akan memiliki kebebasan berfikir dan bertindak untuk terus menerus membaca-menulis.

4. Tekat Menjadi Penulis.

Rupanya kita perlu mengetahui sikap mahasiswa dengan persoalan karya tulis. Bagai mana perasaan mahasiswa, jika mendengar bahwa kelak mendapat tugas membuat karya tulis ilmiah ?.Jika jujur, mestinya akan memaparkan dengan kekurangan yang ada, yangs sebenarnya harus kita sembuhkan.

Mendengar pertanyaan tadi, tentu, apa bila dibuat angka perbandingan antara sikap senang, acuh-tak acuh dan takut. Akankah lebih sedikit yang bersifat senang. Sedangkan yang yang bersikap acuh, tidak peduli, mereka jumlahnya akan lebih besar. Akan tetapi bagi yang bersikap takut, justeru mereka umumnya akan lebih baik menghindar jika tepampang dua jalan di depannya. Sedangkan yang bersikap senang, mereka lebih serius memperhatikan soal-soal penulisan. Jadi mereka akan mempunyai mental yang siap dan matang dalam menghadapi tugas-tugaspenuulisan karya ilmiah (Nazir Karim,2008,41).

Dengan demikian kurangnya kemampuan menulis atau menalar terjadi karena beberapa factor :

  1. Harus berani menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang terdalam dan bersikap terbuka, harus berani mencari jawabannya. Jika sudah mempunyai sikap berani, maka harus berani mempertanggung jawabkan. Misalknya, adalah sebagai berikut : mengapa takut menghadapi suatu persoalan, seperti : tugas penulisan ilmiah atau bentuk jurnalistik lainnya. Mahasiswa harus berani bertanya, mengapa saya takut bisa ?. Jika gagal, mengapa gagal ?.Begitu juga seterusnya. Hal ini mahasiswa harus bersikap terbuka. Berarti mengakui kelemahannya. Akhirnya mahasiswa akan memiliki jawaban, bahwa ia harus usngguh-sungguh belajar. Jika belajar dan berhasil , ia harus berani terus mengembangkan.
  2. Harus berani mengadakan konfrontasi, antara pandangannya dengan bermacam-macam soal atau pendapat yang timbul dalam berbagai lapangan. Maksudnya ialah jika telah mengemukakan suatu cara maka harus berani menghadapkan dengan berbagai pandangan yang timbul dimana saja dan kapan saja.
  3. Bilsa sudah mempunyai pandangan, yang dapat dipertanggung jawabkan, maka harus berusaha membangun hidupnyas sesuai dengan pandangannya. Maksudnya jika pedoman itu sudah dapat  dipertanggung jawabkan, maka mereka harus membangun hidupnya . Dimana tadinya heran atau takut terhadap menulis karya ilmiah, tentu sekarang harus tidak demikian lagi, bahkan harus suadah berani mengembangkan kemampuannya itu.

Dari keterangan diatas, terlihat bahwa penulisan ilmiah, sebenarny mempunyai pengaruh dalam mengembangkan ilmu dan tehnologi yang dikuasai oleh seorang mahasiswa. Dimana dampaknya akan berpengaruh juga dalam pribadi yang bersangkutan. Dan akhirnya akan menuntun seseorang terbiasa memahami fakta, merangkum dan menganalisa dalam benaknya, kemudian melahirkannya dalam bentuk tulisan.

Tebuireng, 3 Juni 2009.

Daftar Kepustakaan :

Ahmad Syalaby, 1991, Kaifa Taktubu Bahtsan ar-Risalah, Al-Jami’ah al-Islamiyyah Sunan Ampel Surbaya.

Ahmadun Yosi, 1995, Kiat menembus kolom dan rubric media massa, Yogyakarta, UGM Press.

Djoko Damono, 1991, Kreativitas menulis, Jakarta. Majalah Pembimbing pembaca, Nopember 1991.

Heri Suwignyo, 2008, Bahasa Indonesia keilmuan, Malang, UMM Press.

Hartono, 2009, Bagai mana menulis tesis ?, Malang UMM Press.

Hernowo, 2001, Mengikat makna, kiat ampuh untuk melejitkan kemauan plus Bandung, Mizan.

Nazir Karim, 2008, Membagun ilmu dengan paradigma Islam, Pekanbaru, SUSKA Press.

Qodri Azizi, 2003, Pengembangan ilmu-ilmu keislaman, Jakarta Dep. Agama RI (Lokakarya Penelitian Dosen PTAI se Indonesia)..

Sutrisman Eka Ardana, 1995, Jurnalistik Da’wah, Yogyakarta, Pstk Pelajar

Perihal mahadalytebuireng
Perguruan Tinggi Islam Swasta (PTIS) di Ponpes. Tebuireng Jombang

Mari Menuju Sukses Bersama Pesantren Tebuireng

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: