Fungsi Kampus Sebagai pusat Pengembangan Ilmu

Oleh :

Drs. H.M. Muhsin Ks., M.Ag.

(Dosen TPKI Ma’had ‘Aly Hasyim Asy’ari)


1. Landasan Menalar

Dewasa ini, kemajuan ilmu pengetahuan tentang cara berfikir manusia sudah sedemikian rupa, menampilkan macam berfikir yang beragam. Sekitar seratus tahun lalu, dilingkungan perguruan tinggi hanya mengenal satu macam berfikir, berfikir rasional. Hanya ada satu ukuran yang dipakai untuk mengukur kemampuan berfikir seseorang yaitu dengan menggunakan IQ (intellectual quotient). Namun kini telah ditemukan, tiga  macam berfikir atau kecerdasan. Sehingga, selain yang (1) rasional, masih ada berfikir dengan (2) perasaan, dan (3) spiritual. (Soffa Ihsan, 2007:25). Berfikir secara rasional disebut logis, linier, serial, dan tidak ada rasa berat sebelah.

Berbeda dengan cara berfikir rasional, berfikir dengan perasaan mempertimbang lingkungan atau habitat, sehingga tidak semata-mata menggunakan logica.  Berfikir tidak lagi menjadi sesederhana seperti berfikir logis, tetapi menjadi lebih kompleks karena mempertimbangkan faktor konteks. Lalu, sejak sekitar abad ke 20, muncul model berfikir yang memasuki model dimensi kedalaman, yaitu mencari makna dan nilai yang tersembunyi  dalam obyek yang sedang ditela’ah. Ini disebut berfikir spiritual atau kecerdasan spiritual (Nazir Karim, 2006 : 21). Kecerdasan spiritual ini amat menarik untuk dikaitkan kepada cara-cara berfikir  dalam ilmu  pendidikan, hukum atau psychology, yang pada gilirannya mampu mempengaruhi tindakan individu dalam menjalankan kegiatan sehari-hari.

Dalam kehidupan sehari-hari, kecerdasan intelektual memang ”cerdas”  (akurat, tepat, persis), tetapi amat terikat patokan dan amat melekat dengan program yang telah dibuat (fixed program) sehingga menjadi deterministik. Berfikir menjadi suatu finite game. Berfikir dengan perasaan sedikit ”lebih maju”, karena tidak semata-mata menggunakan ligica tetapi sudah bersifat kontektual.

Berbeda dengan keduanya, kecerdasan spiritual tidak ingin dibtasi patokan, juga tidak hanya bersifat kontektual, tetapi ingin keluar dari situasi yang ada dalam usaha untuk mencari kebenaran, makna, atau nilai yang lebih dalam. Dengan demikian berfikir menjadi suatu  infinite game. Ia tidak ingin diikat dan dibatasi patokan yang ada, tetapi ingin melampaui dan menembus situasi yang ada (transenden).

Kecerdasan spiritual tidak berhenti menerima keadaan yang statis dan beku tetapi kreatif dan membebaskan. Dalam kreatifitasnya, ia mungkin bekerja dengan mematah kan patokan yang ada dan selanjutnya membentuk yang baru. Kecerdasan spiritual sama sekali tidak menyingkirkan kedua model yang lain, tetapi meningkatkan kualitasnya sehingga mencapai tingkat yang oleh M. Nuh disebut sebagai kecerdasan sempurna (ultimate intllegence). Sejak Psychologi mempelajari, antara lain : cara berfikir manusia secara umum, terpikir mengapa tidak memanfaatkannya untuk bidang ilmu lain, seperti : hukum, politik, ekonomi dan lain sebagainya ? Kini sudah bukan zamannya lagi untuk mengkotak-kotakkan bidang ilmu secara ketat, karena makin disadari ilmu pengetahuan pada hakekatnya merupakan satu kesatuan terpadu (Edward O Wilso, 1998). Jika ilmu-ilmu yang disebutkan diatas tidak memanfaatkan kemajuan yang dicapai dalam bidang ilmu lain, ia akan menjadi tertinggal dengan hasil yang kurang memuaskan.

2. Klasifikasi Ilmu

Ilmu pengetahuan dewasa ini bisa diklasifikan menjadi tiga golongan, yaitu ilmu alam (natural science), ilmu sosial (social science) dan ilmu humaniora (humanities). Ilmu alam bersifat murni terdiri atas ilmu fisika, kimia, biologi dll. Ilmu sosial yang meliputi ilmu sosiologi, antropologi, psichologi dan sejarah. Sedangkan ilmu humaniora terdiri atas ilmu filsafat, bahasa dan sastera serta seni (Minhaji, 2001 :26).

Ilmu alam, sosial dan humaniora diatas, ketiganya mempunyai kriteria dan hukum yang berlaku secara universal, untuk setiap tempat dan waktu. Hanya saja, kemudian di kalangan umat Islam merumuskan jenis ilmu tersendiri yang bersumberkan pada al-Qur’an dan al-Hadits. Beberapa ilmu dimaksud meliputi : ilmu Syari’ah, ilmu  Ushuluddin, ilmu Tarbiyah dan ilmu Adab (Nazir Karim, 2003 : 32). Perguruan tinggi Islam juga mengakui bidang-bidang tersebut sebagai ilmu agama Islam. Atas dasar perbandingan ilmu tersebut maka jenis fakultas di PTAI, dalam arti mengkaji ilmu Islam terdiri atas ilmu Syari’ah, ilmu Ushuluddin, ilmu Tarbiyah, ilmu Da’wah dan Ilmu Adab. Selain itu, dalam penyajian mata pelajaran ilmu agama Islam yang diberikan sejak tingkat dasar sampai perguruan tinggi meliputi ilmu Tauhid, ilmu Ahlak/Tasawuf, tarikh, ilmu Tafsir, ilmu Hadits dan bahasa Arab. Selain ilmu-ilmu diatas, sekalipun berisi tentang persoalan kebaikan dan manfa’at  hidup bersama antar umat manusia, belum tentu disebut sebagai ilmu yang dapat dimasukkan dalam katagori ilmu agama Islam.

Ilmu-Ilmu syari’ah, Ushuluddin, Tarbiyah, Da’wah dan Adab dimasukkan pada katagori ilmu Islam, sedangkan ilmu-ilmu alam, ilmu-ilmu sosial dan humaniora masuk pada katagori ilmu umum. Ilmu agama dikembangkan bersumberkan  al-Qur’an dan al-Hadits, sedangkan ilmu umum dikembangkan berdasarkan hasil-hasil observasi, eksperimen dan penalaran logis (Amin Abdullah, 2007 :9-11).

Akibat dua type pemahaman diatas,  lahir dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum yang juga  membentuk pola pikir antar keduanya. Yaitu, ahli agama cenderung berfikir normatif-deduktif ;  dengan mengedepankan iman, percaya dahulu, dan mencari solusi lewat petunjuk Tuhan serta banyak membahas yang ghaib. Sebaliknya ahli ilmu umum senantiasa berfikir empiris-induktif ;  dari rasa kurang percaya dan ragu terhadap fakta, kemudian lahir rasa ingin mengungkap langsung, dengan  melakukan eksperimen dan analaisis data. (Ahmad Tamsir, 2002 : 10).

3. Perkembangan PT Islam.

Dengan dikeluarkannya Undang-Undang  Sistem Pendidikan Nasional tahun 2003, posisi lembaga-lembaga pendidikan Islam semakin kokoh. Hal ini memberikan peluang dan sekaligus tantangan bagi sistem pendidikan Islam untuk membangun citranya yang lebih baik. Maka sistem pendidikan Islam, termasuk PTAI, diharapkan dapat memiliki daya saing yang handal dan tangguh. Perubahan paradigma, konsep, visi dan orientasi baru PTAI mesti segera dilakukan agar tidak terisolir dari dunia dan perguruan tinggi-perguruan tinggi yang lain (Muhammad Ali, 2008:7).

Untuk mengejar ketertinggalan tersebut memang cukup menguras tenaga, namun para pendidik Islam jangan terperangkap pada ”diterminisme” sempit dan tidak berani melakukan sesuatu yang lebih baik, atau jika perlu merebutnya dari orang lain (Muhajir, 2002:27). Secara filosofis dapat dimengerti, bahwa legitimasi keilmuan PTAI dengan istilah Islamisasi, bukan suatu kelemahan dan kekurangan melainkan satu bentuk koherensi  (perpaduan) antara ilmu-ilmu Islam dan sain. Masing-masing memiliki kerangka normatif dan sosial-historis. Agama maupun sain  mengajarkan kepada manusia apa dan bagai mana mengelola dunia dengan baik. Sedangkan sosial-historis, agama maupun sain menginstruksikan terjadinya tranformasi dan ”ekploitasi”  dunia dengan penuh semangat (Jaih Mubarok, 2001:21). Dengan kata lain, agama dan sain  adalah ”sabda Tuhan” yang ditebarkan kepada manusia agar ia senantiasa memanfa’atkan sumber-sumber dunia secara serius dan dinamis.

Jadi,  persoalanya bukan terletak pada konstruksi keilmuan (Islamisasi) tetapi sejatinya adalah pada ”bagai mana menjelaskan perubahan-perubahan konsepsual PTAI untuk mengatur semua sistem dalam pemahaman semua sivitas keilmuan tentang manusia, alam, masyarakat, dan lebih-lebih kesempatan dan lapangan kerja

4. Lahan Penyemaian Intelektual.

Lazimnya sebuah PTAI, demkian halnya dengan kampus Ma’had ‘Aly Hasyim Asy’ari diharapkan  kepada para aktivis mahasiswa hidup dalam suasana  yang dinamik, dengan  berbagai kegiatan keilmuan seperti seminar, lokakarya, diskusi, lomba  karya ilmiah. Selain itu, diadakan kegiatan kesenian dan olah raga dll. Disamping itu, rutinitas proses kegiatan belajar-menagajar, yang menciptakan hubungan personal intelektual antara dosen dan mahasiswa berajalan secara fungsionalis  dan herarkis, namun tetap menjaga proses harmonisasi , yang mengarah pada semakin mengecilnya ruang kesenjangan batas struktural antara dosen dan mahasiswa (Muhammad Ali, 2008, 8). Relasi intelektual yang demikian ini, tentu akan mengarah pada terciptanya kesetaraan antara sesama manusia sebagai insan akademis, terutama pada proses tranfer knowledge secara mudah. Setidaknya kondisi tersebut terus tercipta manakala lingkungan intelektual didukung oleh infra struktur kelembagaan kampus maupun wawasan para dosen untuk menerima percepatan arus perubahan. Situasi ini, merupakan kondisi ideal yang diharapkan sebuah lembaga perguruan tinggi untuk dapat mencetak para ilmuan baru..

Akan tetapi, tidak semua mahasiswa melewati jalan menjadi ilmuan, mengingat setiap pribadi memiliki kapasitas individual yang berbeda-beda. Oleh karena itu, kampus IKAHA diharapkan dapat membuka unit-unit berbagai kegiatan sebagai ruang pengembangan intelektual dan kekaryaan bagi mahasiswa. Pilihan mahasiswa pada ruang-ruang tersebut, pada giliranya mereka akan  mudah mengembangkan bakat atau potensi dirinya, kearah terciptanya kualitas kemanusiaan secara baik sesuai dengan potensi dasar yang dimiliki (Muchlas Tsanawi, 2006, 71). Pada tahap   lebih lanjut diharapkan keahlian yang dimiliki dapat menghantarkan kepastian masa depan secara ekonomi dan sosial, adalah suatu yang diharapkan dan dibanggakan. Apakah mahasiswa ingin menjadi seniman, penyair, olah  ragawan, atau menjadi pengusaha ke depan dengan tidak senantiasa menggantungkan nasibnya pada ijazah. Ketergantungan pada ijazah tidak sedikit menjadikan mahasiswa sebagai penganggur abadi.

Akhir-akhir ini, bermunculan wirausahawan dari kalangan mahasiswa dalam bisnis perbukuan di dalam dan sekitar kampus, dengan menonjolkan judul-judul buku, jornal dan majalah ilmiah yang menarik. Mahasiswa mulai membanjiri bursa tersebut, meskipun kehadiran mereka tidak pasti untuk membeli, tetapi setidaknya mahasiswa dapat berkenalan dengan buku-buku baru, begitu pula bertemu dengan penulis baru melalui karya-karya tulis yang terpajang. Sudah barang tentu setiap buku baru membawa wacana pemikiran baru yang mewarnai kehidupan intelektual mahasiswa. Makna kehadiran bursa buku ini, merupakan salah satu alternatif yang mendorong penciptaan proses pencerahan intelektual di kalangan mahasiswa. Setelah lama mengalami kejenuhan intelektual akibat sarana bacaan yang tidak memadai pada perpustakaan di lingkungan kampus.

Memang belum pernah dilakukan penelitian mendalam, bahwa sejak bermunculan bursa buku di kampus, proses perguliran dan pergumulan intelektual sedikit berkembang, diakibatkan oleh informasi/teori baru dari berbagai penerbit yang di pajang sebagai bahan komuditi. Mengingat, sebelumnya banyak mahasiswa yang hanya berekenalan dengan diktat dosen, buku-buku karya pemikir Islam skolastik, seperti buku-buku terjemahan karya Maududi, Abduh, Iqbal, Rasyid Ridha, penulis orientalis seperti Stoddard dan HR Gibb. Dan yang agak modern di Indoensia seperti karyanya A.Mukti Ali, Harun Nasution, Hamka, Rasjidi, dan Sidi Gazalba yang menjadi takaran wacana keislaman di Indoensia masa lalu.

Namun, dengan bertambahnya sedikit buku baru di perpustakaan dan hadirnya bursa buku di kampus, bermunculan buku-buku terbaru dan terbaik yang bersifat editorial, terjemahan maupun karya genius dari penulis Indoensia maupun penulis asing. Berbagai ragam buku dengan berbagai corak pemikiran seperti Islam fundamentalis, Islam ektrim bahkan marxisme pun terpajang menghiasi deretan bursa buku  di halaman kampus. Hal ini menandakan bahwa telah terjadi pergeseran tradisi intelektual atau evolusi spirit intelektual dari nalar skolastik ke nalar modern.

Sekaligus menunjukkan betapa mahasiswa Ma’had ‘Aly Hasyim Asy’ari sebagai mana pada mahasiswa perguruan tinggi umum lainnya memiliki kemampuan untuk  melakukan pengembaraan atau wisata intelektual dalam berbagai ranah pemikiran para pemikir di berbagai dunia. Seperti Max Weber, Durkheim, Sachito Murata, Julain Benda, Ali Syari’ati, Muhammad Arkoun, Ziauddin Sardar dll.

Selain bursa buku, di sekitar kampus terdapat unit telekomunikasi, seperti Wartel dan Warnet sebagai sarana komunikasi untuk mengakses informasi ilmiah dari berbagai disiplin bidang studi. Unit tersebut bisa memberikan makna secara signifikan bagi kepentingan kelembagaan pendidikan PTAI. Setidaknya memberikan corak baru tentang idealitas dan eksistensi PTAI sebagai lembaga pendidikan tinggi modern di tengah-tengah persaingan lembaga pendidikan lainnya. Dalam perkembangannya, warpostel sekitar kampus ternyata merupakan jasa pelayanan yang paling effektif untuk kepentingan mahasiswa dalam meraih sukses studi. Efisiensi dan efektitivitas telah menjadi ideologi mahasiswa dewasa ini. Terutama,  hampir setiap mahaiswa meiliki HP dan faktor dekatnya wartel dan warnet sangat memudahkan berbagai urusan mahasiswa  baik untuk kepentingan studi maupun untuk kepentingan yang lain. Kepentingan studi misalnya, seorang mahasiswa setelah membaca buku-buku di perpustakaan atau di bursa buku, atau menemukan kesultan belajar yang tidak bisa berdialok secara langsung di ruang perkuliahan, ia secara langsung bisa melakukan konsultasi akademik dengan dosen pengajar , dosen prmbimbing atau dosen-dosen lain yang berkaitan dengan kegaiatan kuliah melalui HP atau jaringan wartel yang ada, tanpa harus menghabiskan waktu untuk menemui dosen di rumahnya atau di tempat lain yang tidak efektif.

Komunikasi akademik melalui jaringan elektronik ini, selain tidak memakan waktu, memberikan dimensi baru komunikasi kemanusiaan yang egaliter, mahasiswa terbebas dari hambatan spychologis untuk berkomunikasi dengan dosen atau siapapun, sekaligus merupakan penghargaan pada sesama manusia. Seorang mahasiswa dapat mengekpresikan berbagai cara dan gaya tanpa hambatan psychologis  ketika ia berbicara dengan dosen melalui jaringan telepon untuk mendiskusikan hal-hal yang berkaitan dengan perkuliahan. Sementara itu, dosen bisa dengan leluasa memberikan penjelasan akademik melalui telepon, sambil melakukan tugas ia dapat membimbing mahasiswa tanpa harus mencari waktu yang khusus, dan ini sangat menguntungkan berbagai pihak, baik dosen maupun mahasiswa sendiri.

Di sinilah dosen-mahasiswa telah memulai model baru dalam komunikasi pendidikan untuk tranfer ilmu pengetahuan ke arah penyempurnaan kualitas manusia. Ke depan, melalui jaringan elektronik ini dapat membantu mahasiswa melakukan interaksi intelektual, menyebarkan pemikiran serta mengakses hasil penelitian dari siapapun baik dalam negeri/luar negeri.

Tebuireng, 15 Mei 2009.

Daftar Kepustakaan :

Ahkmad Minhaji, 2003, Masa depan pembidangan ilmu di PTAI, Yogyakarta, Arruz Yogyakarta.

Amin Abdullah, M. 2007, Kekunstruksi metodologi Islamic studies madzhab Yogyakarta, Yogyakarta, SUKA Press.

Jaih Mubarok, 2003, Metodologi Studi Islam, Bandung, Remaja Rosdakarya.

Muchltas Tsanawi, 2006, Menggagas pendidikan bermakna. Surabaya, SIC Press.

Muhadjir, Noeng, 1999, Metode penelitian kualitatif, Yogyakarta, Rakasarasin.

Muhammad Ali, 2008, Pola pengembangan PTAI, Palembang, Unnual Conference 2008.

Muhammad Tamsir, 2002, Problematika penelitian agama, Bogor, Dep.Agama RI.

Nazir Karim, 2004, Membangun Ilmu dengan paradigma Islam, Pekanbaru, LKiS Pelangi Aksoro.

Soffa Ihsan, 2007, In To The Soul, dari pencarian nalari kepencarian rukhani, Jakarta, Pustaka Cendekia Muda.

Perihal mahadalytebuireng
Perguruan Tinggi Islam Swasta (PTIS) di Ponpes. Tebuireng Jombang

Mari Menuju Sukses Bersama Pesantren Tebuireng

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: